Puisi Orang Lain

Selesai

Oleh: Toeti Heraty

suatu saat toh mesti ditinggalkan
dunia yang itu-itu juga
—api petualangan cinta telah pudar—
bayang-bayang dalam mimpi, senyum
   tanpa penyesalan kini
beberapa peristiwa tinggalkan
   asap urai ditelan awan

beberapa nama, beberapa ranjang
beberapa tinta mengalir dan terbuang
   —mengapa tidak?!—
menyeka debu dari buku, menemukan
   coretan yang hampir musna
jadi permainan yang hilang ketegangannya

dunia ini nyata, suatu penemuan!
dunia ini nyata, suata keheranan!
keheranan dan penemuan jelmakan
   benda-benda mesra

bola yang usang dan beruang tercinta
sepatu merah yang telah lepas-lepas
   kulitnya,

dunia ini nyata
sebentar lagi anak-anak pulang
   dari pesta

Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari

Oleh: Sapardi Djoko Damono

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikuti di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

(1971)

Pemberian Tahu

Oleh: Chairil Anwar

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

1946

Tamu

Oleh: Subagio Sastrowardoyo

Lelaki yang mengetuk pintu pagi hari
sudah duduk di ruang tamu. Aku baru
bangun tidur. Tapi rupanya ia tidak
merasa tersinggung waktu aku belum
mandi dan menemui dia. Rambutku masih
kusut dan pakaianku hanya baju kumal
dan sarung lusuh.
“Aku mau menjemput,” katanya pasti,
seolah-olah aku sudah berjanji sebelumnya
dan tahu apa rencananya.
“Bukankah ini terlalu pagi?” tanyaku ragu.
“Dia sudah menunggu!” Ia nampak tak sabar
dan tak senang dibantah. Aku belum tahu
siapa yang ia maksudkan dengan “dia”,
tetapi sudah bisa kuduga siapa.
“Tetapi aku perlu waktu untuk berpisah
dengan keluarga. Terlalu kejam untuk
meninggalkan mereka begitu saja. Mereka
akan mencari.”
Nampaknya tamu itu begitu angkuh seperti
tak mau dikecilkan arti. Siapa dapat lolos
dari tuntutannya.
Sebelum aku sempat berbenah diri ia telah
menyeret aku ke kendaraannya dan aku dibawanya
lari entah ke mana. Ke sorga atau ke neraka?

Huruf

Oleh: Danang T.P.

Aku melihat satu persatu huruf berjalan pergi meninggalkan kalimat
Dia berubah menjadi angin, daun dan rerumputan
Ada yang terselip jadi duka
Juga banyak yang bersarang menjadi bahagia
Tapi sedikit sekali yang hinggap di diam
Dengan sajak ingin ku ambil mereka satu persatu
Menulis dengan langkah kaki
Tapi bisakah:
“ia mendatangiku sendiri, untuk sekedar menawarkan diri”
Kita sudah lama hanya dihidupi kaki dan mulut
Di pagi yang dingin ini
“aku ingin mengambil satu kata” kata pohon itu
Rupanya pohon itu tak melihatku
Mati
Lunglai
Di siksa suara dan langkah kaki tanpa renung arah
Lalu esok aku masih berharap sunyi
“tanpa sesal” kataku

Perempuanku (Haiku)

Oleh: Ahmad Tafsir Maududi

Perempuanku
Sedang menari ragu
Dengan senyuman

Berdiam diri
lalu menari ragu lagi
Dengan tersipu

Perempuanku
Berlari menujuku
Berkata kelu

Akulah lelah
Aku cinta, katanya
Kepada angin

Diriku ragu
Menjelma kebisuan
Siapa kamu

Di dalam sunyi
Hati, jiwa, jembatan
Aku saljumu

Perempuanku
Pintal seribu rindu
merdu dan memar

“Kasihku sayang
Kapankah kamu pulang
Ku rasa rindu!”

Berbeda (Cemburu 3)

Oleh: Ilham Azmil Putra

Mendung berlapis kerinduan
Aku menatap sayu, membedakan mana hujan mana gerimis
Membedakan mana rindu, mana cemburu

Dan aku masih belajar untuk berkata-kata, jika esok bertemu
Apa aku harus bilang aku cemburu, atau “jangan kau sebut lelaki itu di dekat mataku!”
Mana merdu, mana pesta
Mana cemburu, mana cinta

Yogyakarta, 14 November 2013